Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung melaksanakan kunjungan edukatif ke Perpustakaan Bung Karno, Kota Blitar, pada Kamis, 20 November 2025. Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan Proklamator Bung Karno beralamat di Jl. Kalasan No.1, Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur ini bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung mengenai pengelolaan perpustakaan, sistem kearsipan, serta pelestarian koleksi sejarah dan pemikiran Bung Karno.
Kunjungan diawali dengan memasuki area utama perpustakaan melalui gerbang depan yang menghubungkan area publik dengan bangunan inti perpustakaan dan museum. Rangkaian kegiatan dimulai dengan sesi pemaparan materi oleh narasumber dari Perpustakaan Bung Karno yang dilaksanakan di ruang kelas dengan fasilitas presentasi. Materi yang disampaikan meliputi sejarah pendirian Perpustakaan Bung Karno, latar belakang pemikiran Bung Karno, serta fungsi perpustakaan sebagai pusat pelestarian literatur dan arsip tokoh bangsa. Pemaparan ini menjadi bekal awal bagi mahasiswa sebelum melakukan observasi langsung. Dalam sesi tersebut, mahasiswa juga diperlihatkan dokumentasi daftar gelar Doctor Honoris Causa yang diterima Bung Karno dari berbagai universitas dunia. Dokumentasi ini menunjukkan pengakuan internasional atas pengaruh pemikiran Bung Karno di bidang politik, hukum, dan kemanusiaan.
Rombongan selanjutnya diarahkan menuju Ruang Arsip di lantai 2 perpustakaan. Ruang ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan dokumen-dokumen penting terkait Bung Karno dan arsip sejarah lainnya. Rak-rak arsip tertata rapi dengan sistem pelabelan yang teratur, mencerminkan pentingnya pengelolaan dan pelestarian dokumen sejarah. Mahasiswa juga mendapatkan penjelasan mengenai standar penataan arsip serta pentingnya pengendalian suhu dan kelembapan ruangan untuk menjaga kualitas dokumen.
Mahasiswa juga menuju ke Ruang Koleksi Langka dan Naskah Kuno di lantai 4. Ruangan ini menyimpan koleksi bernilai historis tinggi yang hanya dapat dibaca di tempat. Sebagian besar koleksi langka merupakan hibah dari Bapak H. Masagung, pendiri Toko Buku Gunung Agung, yang dikenal sebagai pengusaha sekaligus kolektor buku. Beberapa koleksi bahkan merupakan buku-buku yang pernah dibaca oleh Bung Karno. Selain itu, terdapat pula naskah-naskah kuno yang diperoleh melalui proses pembelian. Mahasiswa berkesempatan mengamati langsung berbagai manuskrip berusia puluhan hingga ratusan tahun, seperti naskah dari lontar, peta Daerah Istimewa Yogyakarta, peta Jawa Barat, peta Djawa dan Madura, lontar Besuki Jember, Serat Candrageni, Babad Nitik, Serat Asmara Sufi, Serat Wiwoho Jarwo, kumpulan doa-doa, Serat Centini, dan naskah-naskah kuno lainnya. Ruangan ini diatur dengan pencahayaan dan suhu yang terkontrol guna menjaga kondisi fisik naskah. Penjelasan mengenai metode pelestarian naskah kuno turut diberikan oleh pemateri.

Salah satu naskah yang diperkenalkan secara khusus adalah Serat Pandita Raib, yang diperkirakan ditulis pada abad ke-19. Naskah ini menggunakan aksara Jawa, bermedia litto, dengan subjek sastra filsafat, dan berasal dari Kadipaten Mangkunegaran. Mahasiswa juga diperlihatkan contoh naskah kuno yang belum teridentifikasi secara lengkap dan masih dalam tahap penelitian. Setelah itu mahasiswa turun ke lantai 1 menuju ke ruang museum dan disambut oleh oleh petugas yang menjelaskan bahwasannya ada 2 gelar islam Honoris Causa Bung Karno, yaitu dalam bidang ilmu tauhid maupun tasawuf. Kontribusi Bung Karno pada Mesir yaitu tidak menutup al-Azhar untuk Indonesia juga dijelaskan.
Mahasiswa juga mengunjungi Rumah Pintar Pemilu Nasional. Ruangan ini menyajikan edukasi mengenai sejarah pemilihan umum Indonesia, mekanisme demokrasi, serta peran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan negara. Melalui panel informasi dan display visual, mahasiswa dapat memahami perkembangan sistem pemilu dari masa ke masa serta kontribusi Bung Karno dalam membangun fondasi kenegaraan.
Secara keseluruhan, kunjungan ke Perpustakaan Bung Karno memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam memahami pengelolaan perpustakaan, sistem kearsipan, serta pelestarian koleksi langka dan naskah kuno. Kegiatan ini memperkuat keterkaitan antara teori perkuliahan dengan praktik di lapangan, sekaligus menegaskan peran perpustakaan sebagai pusat edukasi, sejarah, dan budaya yang penting bagi masyarakat.*** (Khoirur Roziqin)
