Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung mengunjungi Pameran Naskah dan Digitalisasi Manuskrip yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Al-Qur’an dan Tafsir (PSQT) UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung sebagai upaya pelestarian warisan intelektual masa lampau. Kegiatan berlangsung pada 2–12 Desember 2025 dan dipusatkan di Gedung Perpustakaan lantai 1 UIN SATU Tulungagung.
Beragam naskah kuno yang dipamerkan kepada publik, di antaranya Serat Ambiya’, Tafsir Jalalain, Barzanji, hingga Al-Qur’an Dluwang. Naskah-naskah ini menjadi bukti nyata kekayaan khazanah keilmuan dan budaya Islam Nusantara yang perlu dijaga keberlangsungannya. Selain pameran, PSQT juga memperkenalkan proses digitalisasi naskah kuno yang dipandu oleh Ahmad Sholikin, S.Ag. Pada kesempatan tersebut, dilakukan digitalisasi Al-Qur’an Dluwang bertarikh 1833. Proses pemotretan menggunakan alat bermerek Czure yang diklaim mampu mengambil gambar satu halaman hanya dalam waktu sekitar dua detik.

Ahmad Sholikin menjelaskan bahwa naskah-naskah kuno menyimpan banyak informasi penting tentang perkembangan peradaban. “Dari naskah-naskah kuno ini kita bisa mengidentifikasikan bagaimana perkembangan suatu peradaban pada masa itu,” ujarnya. Ahmad Sholikin mencontohkan Al-Qur’an Dluwang yang meski ditulis tangan pada tahun 1833, memiliki tulisan yang sangat rapi dan detail. Pemilihan bahan berupa kertas dluwang juga menunjukkan kecermatan penulis karena kertas tersebut dikenal tahan terhadap serangan rayap. Selain itu, motif dan simbol pada sampul naskah dapat menjadi petunjuk asal-usul serta kondisi sosial budaya masyarakat pada masa pembuatannya.
Proses digitalisasi tidak dilakukan secara sembarangan. Sebelum pemotretan, naskah terlebih dahulu menjalani tahap pemeliharaan. Setiap lembar dibersihkan menggunakan kuas untuk menghilangkan debu, sementara petugas wajib mengenakan sarung tangan steril berbahan lateks atau plastik guna mencegah kontaminasi bakteri. Jika ditemukan kerusakan ringan seperti sobekan atau lubang kecil, perbaikan dilakukan menggunakan tisu Jepang. Adapun untuk kerusakan berat, diperlukan proses restorasi khusus.
Dalam hal penyimpanan, Ahmad Sholikin menekankan pentingnya tempat yang kering dan kedap udara, seperti etalase atau almari berbahan besi maupun kaca. Kesalahan umum yang dilakukan pada masa lalu adalah menyimpan naskah di peti kayu yang lembap dan rentan rayap. “Banyak naskah rusak parah bahkan habis dimakan rayap karena kesalahan penyimpanan. Ini harus menjadi pelajaran bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Melalui kegiatan pameran dan digitalisasi ini, PSQT UIN SATU Tulungagung tidak hanya memperkenalkan naskah kuno kepada masyarakat luas, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya dan intelektual bangsa agar tetap lestari dan dapat diakses oleh generasi masa depan.*** (Rosyad Syauqillah Al Fattakhi)
