SEMARANG, 30 Juni 2025 — Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung kembali menggelar Histori Tour tahunan, Senin (30/6), dengan mengusung tema “Kolonialisme”. Kegiatan wajib bagi mahasiswa semester IV—namun terbuka untuk umum—ini diawali doa bersama di kampus dan pemberangkatan dua bus menuju Semarang.
Dini hari Selasa (01/7) Sekitar pukul 02.30 WIB, rombongan tiba di Masjid Agung Semarang untuk beristirahat, menunaikan salat Subuh, dan sarapan. Agenda kunjungan dimulai di Museum Mandala Bhakti, 20 menit dari masjid, dengan suguhan tempat koleksi senjata, diorama pertempuran, artefak perjuangan, serta dokumentasi Pangeran Diponegoro memantik antusiasme peserta.
Destinasi kedua, Lawang Sewu, menyajikan arsip perkeretaapian, perpustakaan, dan ornamen Art Nouveau. Peserta dibagi dua kelompok dengan pemandu historis yang memaparkan latar bangunan peninggalan Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij itu secara ringkas dan mudah dipahami.

Di tengah teriknya cuaca, rombongan melanjutkan langkah ke Museum Kota Lama. Ruang berpendingin dan estetis tersebut menayangkan film tiga dimensi tentang perjalanan Semarang sebagai kota pelabuhan kolonial. Karena keterbatasan ruang, pengunjung diatur dalam tiga kelompok tanpa mengurangi semangat belajar.
Perjalanan berlanjut ke Gereja Blenduk, ikon arsitektur abad ke-18. Kurator gereja memaparkan sejarah gereja blenduk, dilanjut dengan sambutan dosen pendamping Najib…… , serta pendeta setempat yang menyambut peserta dengan hangat. Sesi diakhiri foto bersama seluruh peserta.

Usai shalat Asar pukul 15.30 WIB, peserta diberi waktu bebas menikmati suasana Kawasan Kota Lama hingga pukul 19.00. Sebelum pulang, rombongan singgah di pusat oleh-oleh untuk membeli aneka jajan dan suvenir. Perjalanan pulang lewat jalur tol berakhir pukul 01.00 WIB di Tulungagung.
Histori Tour 2025 tidak hanya memperkaya wawasan kolonial mahasiswa SPI, tetapi juga meneguhkan jiwa kebersamaan lintas angkatan dan masyarakat umum. Dengan menyelami situs-situs bersejarah dan dialog lintas iman, peserta diajak menapaki masa lalu sebagai fondasi membangun masa depan inklusif. Semangat belajar yang menyala di setiap pemberhentian menjadi bukti bahwa cinta sejarah adalah langkah awal menjaga warisan bangsa.***
Penulis : Nabila Anastasya
Editor : Putri Rahayu dan Ayzara zayyana
